PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Naiknya harga minyak di pasar dunia dan nasional secara signifikan serta semakin menipisnya cadangan minyak bumi menyadarkan kita bahwa konsumsi energi dari tahun ke tahun semakin meningkat dan itu tidak seimbang dengan ketersediaan sumber energi tersebut. Hal ini harus dapat diimbangi dengan penyediaan sumber energi alternatif yang melimpah jumlahnya dan murah harganya sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat luas. Teknologi alternatif betapa pun tradisionalnya, perlu dipertimbangkan salah satu di antaranya adalah teknologi bio-char.
Limbah selalu menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sehingga penanggulangannya perlu dipikirkan. Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk menanggulanginya adalah memanfaatkan limbah tersebut menjadi produk yang bernilai tambah dengan teknologi sederhana sehingga hasilnya mudah disosialisasikan kepada masyarakat.
Beberapa teknologi alternatif untuk memanfaatkan limbah biomassa adalah teknologi pembuatan arang. Arang serbuk yang dihasilkan dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang lebih ekonomis seperti arang aktif, briket arang, serat karbon, arang kompos dan dapat digunakan secara langsung (coil conditioning). Briket arang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang harganya semakin naik bila ditinjau dari aspek energi, sehingga dapat menghemat pengeluaran biaya bulanan. (Pari. G, 2002).
Bio-char atau yang lebih kita kenal dengan sebutan bio-arang telah memperoleh perhatian yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir ini. Bio-char merupakan alternatif untuk sumber energi dan penyimpan karbon. Proses produksi bio-char dapat dilakukan dalam skala kecil hingga komersial. Bahan baku pembuatan biochar dapat berupa kayu, limbah pertanian seperti tongkol jagung, limbah pabrik industri seperti blotong , dan sekam padi.
Ibnu Rois (2005) dalam penelitian Yuni Hermawan, Briket sekam padi memiliki potensi yang sangat menjanjikan di Indonesia. Bahan baku berupa limbah sekam padi terdapat dalam jumlah yang melimpah, murah, dan renewable. Beberapa tahun terakhir ini produksi GKG (Gabah Kering Giling) mencapai angka 64 juta ton per tahun. Sekitar sepuluh persen dari jumlah ini, merupakan limbah yang berupa sekam padi (kulit dari biji padi). Sumber lain mengatakan bahwa limbah sekam padi kasar berjumlah 4,9 juta ton setiap tahun.
Pembuatan arang sekam dimaksudkan untuk memperbaiki sifat fisik sekam agar lebih mudah ditangani dan dimanfaatkan lebih lanjut. Salah satu kelemahan sekam bila digunakan langsung sebagai sumber energi panas adalah menimbulkan asap yang berwarna hitam dan mengandung CO2 pada saat dibakar. Jika digunakan langsung untuk mengeringkan suatu bahan, maka akan mengakibatkan bahan yang dikeringkan berbau asap dan warna berubah sehingga menurunkan kualitas bahan, disamping itu menimbulkan polusi udara yang mengganggu lingkungan sekitar.
Pembriketan sekam padi mampu mengubah limbah pertanian menjadi bahan bakar dengan efisiensi konversi cukup baik, densitas energi (kandungan energi per satuan volume) cukup tinggi, serta kemudahan dalam hal penyimpanan dan pendistribusian. Briket sekam padi digunakan sebagai bahan bakar alternatif dengan teknologi yang sederhana dan murah. Pemanfaatan briket sekam padi sangat luas, mulai dari penggunaan di industri, baik kecil maupun menengah, sampai ke rumah tangga.
Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian meneliti sekam untuk Bahan Bakar Alternatif, dimana dalam penelitiannya sekam padi dikeringkan kemudian diarangkan dengan menggunakan metode cerobong dan pembuatan briket ditambah dengan perekat pati dari ubi kayu. Hasilnya pemakaian pati 6% menghasilkan briket dengan biaya yang murah dan menghasilkan briket arang sekam yang cukup kompak dengan daya bakar yang baik. Kadar air briket arang sekam (6,4%) lebih rendah dibanding kadar air arang sekam (7,35%). Dilihat dari lamanya atau ketahanan nyala bara api, briket dengan campuran aci 12% dapat bertahan lebih lama sehingga dapat mendidihkan air lebih cepat.
Dalam penelitian ini, dilakukan penelitian terhadap suhu karbonisasi dan kadar amilum untuk mendapatkan briket sekam padi yang berkualitas baik. Briket sekam padi terbuat dari arang sekam padi yang dicampur dengan bahan perekat berupa gel amilum dan kemudian dipadatkan pada tekanan rendah. Amilum dikenal dengan sebutan tepung kanji (cassava starch) digunakan sebagai bahan perekat karena murah dan mudah didapat.
1.2 Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu karbonisasi dan kadar amilum sebagai perekat terhadap nilai kalor, kuat tekan, kadar abu, dan kadar air dari briket arang sekam padi.
1.3 Manfaat penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk:
1. memberikan alternatif bahan bakar yang lebih murah dibandingkan bahan bakar lain, misalnya batubara dan minyak.
2. meningkatkan nilai ekonomis dari sekam padi.
1.4 Rumusan masalah
Bagaimana pengaruh suhu karbonisasi dan kadar amilum sebagai perekat terhadap nilai kalor, kuat tekan, kadar abu, dan kadar air dari briket arang sekam padi.
1.5 Batasan masalah
1. Bahan baku yang digunakan adalah sekam padi
2. Amilum digunakan sebagai bahan perekat briket arang
3. Ukuran sekam padi 10 mesh
4. Berat sekam padi 200 gr
5. Waktu karbonisasi 2 jam
6. Alat yang digunakan adalah Reaktor pirolisis serta pencetak briket.
ok
BalasHapusok